Prinsip, Etika dan Kaidah Mengelola Perbedaan
Dr. Abdullah bin Ibrahim Ath Thariq, Syaamil Cipta Media, 2005.
Oleh: Tri Aji Nugroho
Resensi
Berbeda pendapat adalah sunnatullah. Perbedaan ini mencakup seluruh aspek kehidupan. Dimulai dari perbedaan bahasa dan warna, perbedaan perilaku dan watak hingga perbedaan cara berpikir dan pemahaman. Jika mereka sama rata, niscaya mereka akan hancur.
Masalahnya adalah cara menyikapi perbedaan pendapat. Ada yang menganggap hal tersebut terlalu sepele ada yang menganggapnya terlalu keras. Akibatnya fatal jika tidak ada solusi atau hikmah yang didapat. Sebaliknya justru membangkitkan kebencian, permusuhan dan perkelahian. Lantas, bagaimanakah cara terbaik untk menyikapi perbedaan pendapat? Ialah dengan cara ilmiah. Hakikat inilah yang dipahami betul oleh para sahabat, tabiin dan salafushshalih. Kehadiran buku ini tentu sangat dinanti umat yang kini terus dimutilasi oleh perbedaan pendapat. Buku ini disampaikand dengan bahasa popular dan contoh-contoh praktis.
Bila anda mendalaminya dijamin anda akan dapat menguak hikmah dan menikmati nilai yang selama ini hilang. Semoga bermanfaat!
Isi
Buku ini membahas seni perbedaan pendapat dengan komprehensif. Dimulai dari pembahasan pengertian dari perbedaan pendapat dari akar bahasa arabnya. Apakah itu Al-Jidal, Al-Munadharah, Ar-Raddu, dan lain sebagainya.
Dalam buku ini dijelaskan pula tujuan berinteraksi dengan orang lain yang berbeda pendapat. Apakah itu untuk menegakkan kebenaran? Atau untuk mengikis kebatilan? Atau untuk merekrut orang yang berbeda pendapat?
Setelah mengetahui tujuan kita berinteraksi, kita harus mengetahui prinsip-prinsip berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat. Prinsipnya antara lain:
- Ikhlash dan ittiba’,
- Ahliyah (Kelayakan),
- Tajarrud (Menjauhkan Diri) dari Kehendak Hawa Nafsu,
- I’tidal (Tidak berlebih-lebihan) dalam berinteraksi,
- Sangat mendambakan orang lain mendapat hidayah,
Dalam perbedaan pendapat, kita juga harus memiliki sikap. Sikap ini ditujukan terhadap konteks permasalahan yang dibahas.
Sikap-sikap terhadap perbedaan pendapat antara lain:
- Perbedaan pendapat dalam masalah yang sangat qath’I (Dalil sangat jelas): Berbeda dalam masalah ini tidak diperbolehkan secara mutlak karena mengandung kebatilan dan menyalahi hal yang sudah jelas kebenarannya.
- Perbedaan pendapat dalam masalah yang zhanni (prasangka): Ada dua jenis, kalau terhadap pendapat yang nyeleneh, hal tersebut harus dijauhi, namun kalau dalam perbedaan yang kuat (sama-sama memiliki dalil) maka dihitung sebagai ijtihad dengan syarat pemberi pendapat adalah orang yang memenuhi syarat mujtahid.
- Harus ada sikap toleransi.
- Perbedaan bisa jadi merupakan rahmat selama dimanfaatkan untuk menjadi tempat mengambil pandangan-pandangan dari berbagai orang untuk diambil yang terbaik.
- Kebenaran hanya satu: yang paling kita yakini.
- Hukum mengingkari pendapat yang berbeda: ada yang boleh ditinggalkan sama sekali, yaitu yang nyeleneh dan lemah, tetapi perbedaan pendapat yang memiliki dalil tidak boleh diabaikan.
Sikap terhadap orang yang berbeda pendapat:
1. Orang-orang kafir harbi dan orang orang yang murtad:
a. Berlepas diri dari mereka dan amal-amal perbuatan mereka
b. Membenci mereka
c. Waspada terhadap tipu daya mereka
d. Bersikap keras terhadap mereka
e. Berjihad untuk melawan mereka
f. Berlaku adil terhadap mereka
g. Mengajak mereka terhadap kebenaran
2. Orang-orang kafir dzimmi: Sama seperti diatas, hanya saja kepada mereka kita harus berlaku lebih lembut dan memperlakukan mereka seperti memperlakukan rakyat pada umumnya.
3. Kepada kelompok sesat:
a. Secara umum, sikap kita adalah:
i. Membenci perbuatan bid’ah mereka
ii. Menjauhi mereka
iii. Mengusir dan mempersempit gerak mereka
iv. Memperingatkan kaum muslimin dari bahaya mereka
v. Menjatuhkan nama mereka
vi. Tidak mengkafirkan mereka
vii. Memberi nasihat dan pengarahan kepada mereka.
b. Secara khusus, sikap kita:
i. Melakukan penyidikan secara jeli dan objektif terhadap pemikiran, kondisi dan jalan yang ditempuhnya.
ii. Tidak gegabah mengafirkan atau memfasikkan mereka, kecuali:
1. Menentang syariat Allah swt dan RasulNya.
2. Benar-benar berniat untuk menentang.
3. Telah memahami permasalahan namun tetap menentang.
4. Menentang tidak dalam keadaan dipaksa.
iii. Objektif dalam memberikan penilaian.
iv. Memperhatikan situasi dan kondisi serta melihat maslahat dan mudharatnya
4. Orang-orang fasik dari kalangan umat islam
a. Memberikan nasihat.
b. Memberikan sanksi yang sesuai.
c. Tidak menerima riwayat dan kesaksian mereka.
d. Tidak memberikan jabatan umum kepada mereka.
e. Menjauhi mereka,
f. Membatasi gerak mereka,
g. Mengingatkan kaum muslimin akan bahaya mereka.
5. Para ulama dan orang-orang sholeh yang melakukan kesalahan, maka sikap kita tetap berada dalam frame:
a. Tetap dalam loyalitas yang utuh,
b. Memberikan hak mereka secara penuh,
c. Berhusnudzon kepada mereka,
d. Sopan dan rendah hati kepada mereka,
e. Melupakan kesalahan mereka,
f. Hormat kepada mereka,
Itulah kurang lebih ringkasan singkat dari buku ini. Adapun masih ada beberapa bahasan terkait aturan berdialog yang dijelaskan dalam buku ini, namun hal tersebut merupakan tambahan dalam tema seni berbeda pendapat. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci dan spesifik terkait dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah yang melandasinya, antum sekalian bisa membaca sendiri bukunya. Semoga bermanfaat!
5 responses so far ↓
Didit // March 9, 2008 at 2:09 pm |
Ji aku terkesan dengan uraian singkat tentang seni perbedaan pendapat…..
Semoga perbedaan pendapat yang positip bisa menjadi warna-warni dalam kehidupan kita,,,,,
salam..
mas_adhi // March 10, 2008 at 2:41 pm |
kalo berpikir berbeda..?
http://sulistyaadhi.wordpress.com
dianYttrium04 // June 8, 2008 at 11:01 pm |
ji, makasi tulisan ini mengingatkanku
) perasaan, kek jadi proyek angkatan gitu yak? hehehe. tapi the real proyek angkatan gmn jdnya? aaf bilang hbs DMM, pada riweuh @DMM smua soalnya.. sok tah.. ayo, ayo,, bikin proyek angkatan…!
inget juga perbedaan pendapat pas DMM, dapet cerita2 & melihat kejadian disana, keknya ada musuh bersama ikhwan yak? kasian, jangan kek gt lah. ingetin yah… hohoho… =D makasi banget atas kerjasama @DMM kemarin. subhanallah. (teparnya juga subhanallah, hehehe
aku link yah.. syukran
Ahmad Fikri // July 2, 2008 at 7:11 pm |
itulah kenapa sepertinya saya butuh ente Ji untuk selalu mengingatkan soal seni berbeda pendapat ini! hehe….
Soalnya saya cenderung mau menang sendiri nih. Akhir2 ini mencoba utk lebih santai & gak ambisian dalam bergaul, eh jadinya malah ilang motivasi buat menjadi unggul di antara orang lain! hehe……
Btw Manajer Asrama, alamat blog saya yg di Blogroll ente udah ga dipake lagi tuh! Skarang kan blog sy ficrizzie.wordpress.com
mrfajarsyah // July 16, 2008 at 9:13 am |
berbeda pendapat harus diakomodasikan supaya yang muncul adalah kebenaran, bukan konflik..
kalo orang indonesia mah..kalo berbeda biasanya ujungnya konflik..egonya gede banegt