Meretas Sejarah Kepemimpinan di Medan Ramadhan

Sejarah Heroik Para Pemimpin di bulan Ramadhan

Kemenangan heroik Rasulullah Muhammad saw beserta para sahabatnya pada medan Badar tidak akan pernah luput dari benak umat islam. Kejadian tersebut menguak banyak sekali pelajaran penting tentang kesungguh-sungguhan. Dengan jumlah pasukan yang hanya sedikit –313 kaum muslimin berhadapan dengan 1000 kaum kafir quraisy-, dan perlengkapan yang seadanya, Rasulullah Muhammad saw berhasil menancapkan panji kemenangan islam dan eksistensi Islam di seantero jazirah arab. Tidak ada kabilah arab yang tidak mengetahui berita kemenangan pasukan dari Yastrib tersebut. Sejarah ini ditorehkan pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah kira-kira 80 mil dari kota Yastrib (Ibnu Hisyam, 2001).

Juga tidak luput dari ingatan kita saat-saat kemenangan Panglima Thariq bin Ziyad dalam Futuhat Andalusia (Spanyol). Thariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Afrika dan Eropa atas perintah Musa bin Nushair penguasa Islam kala itu. Ketika pasukan islam telah sampai di seberang, Thariq bin Ziyad memerintahkan kepada mereka untuk membakar kapal-kapal yang telah mengangkut mereka. Kemudian ia berpidato di depan seluruh pasukan islam: “Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian “. Sejarah emas ini yang memulakan kemajuan ilmu dan peradaban Islam di masa-masa selanjutnya melalui para ilmuwan Islam di Andalusia. Futuhat Andalusia terwujudkan pada Ramadhan tahun ke-92 Hijriah.

Sejarah kepemimpinan yang heroik telah ditorehkan oleh orang-orang mulia sebelum kita pada bulan Ramadhan. Ramadhan menjadi sebuah wadah perjuangan hakiki yang senantiasa melahirkan sejarah-sejarah besar yang menjadi pelajaran bagi kemanusiaan dalam rentang peradaban selanjutnya. Ia mengandung makna pembentukan dan pembuktian yang luar biasa terhadap para manusia pemeran episode kepemimpinan.

Esensi Peribadatan yang Membentuk dan Membuktikan

Allah swt mensyariatkan peribadatan puasa dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 183:

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

dengan tujuan membentuk orang-orang beriman yang bertaqwa. Dalam ayat ini pun ibadah puasa dispesifikkan untuk ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Instrumen pertama Ramadhan untuk pembentukan manusia beriman yang bertaqwa adalah puasa.

Puasa membentuk kita untuk menjadi lebih peduli dengan rakyat kecil. Penderitaan mereka dalam menahan lapar karena ketidaktersediaan pangan untuk dikonsumsi dapat kita rasakan secara langsung, tidak sekedar kita lihat dan kita dengar saja. Untuk itu, kepedulian yang empatif selayaknya terbentuk dan termaknakan dalam diri kita. Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw melanjutkan pembentukan kepedulian yang empati itu dengan dorongan-dorongan ayat Al-Qur’an dan hadist untuk berinfaq lainnya.

Puasa membentuk kita untuk lebih bersabar menahan kejelekan yang ada dalam diri kita. Hal-hal yang biasanya bebas kita lakukan menjadi sesuatu yang dilarang di bulan Ramadhan ini. Bukan tanpa sebab dan tujuan.

Pembentukan kepedulian yang empatif, kesabaran yang progressif, dan kerja keras yang ikhlas, kesemuanya adalah komponen-komponen penting dari sebuah kepemimpinan yang menyejarah. Selanjutnya adalah pembuktian dari pada komponen tersebut menjadi amal nyata yang ditujukan untuk Allah swt saja. Sehingga sekali lagi, Ramadhan akan menjadi medan yang lebih indah untuk dituturkan berulang-ulang oleh anak cucu kita dengan torehan sejarah kepemimpinan yang luar biasa di dalamnya. Tentunya akan lebih indah lagi jikalau terdapat torehan kita di dalamnya. Mari menyejarah.

2 responses to “Meretas Sejarah Kepemimpinan di Medan Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s