Gerakan Dakwah Mahasiswa sebagai Salah Satu Pilar Bangkitnya Peradaban Islam

“Dalam memperingati 1429 tahun hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah menuju Yastrib” – Muharram 1429 H. 

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Allahumma sholli ‘ala Muhammad.

Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Rasulullah Muhammad saw telah memberikan keteladanan bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah swt dan yakin akan adanya hari akhir. Keteladanan tersebut mencakup seluruh perikehidupannya dimulai sejak beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira sampai menghembuskan nafas yang mengakhiri perjuangannya di dunia. Hikmah-hikmah kebaikan yang dilakukannya bahkan sejak beliau belum menyandang status kerasulannya pun dapat kita teladani.

Teladan Hijrah Rasulullah saw

Hijrah yang dilakukan Rasulullah saw merupakan proses perpindahan geografis beliau saw dari satu kota (Mekah) ke kota lainnya (Yastrib). Ia (Hijrah) terjadi pada tahun ke-3 sejak pemboikotan kaum quraisy terhadap umat islam yang pada saat itu merupakan tahun-tahun terberat perjuangan nabi saw, atau merupakan tahun ke-13 sejak ‘Iqra’ diturunkan kepadanya. Rasulullah saw berhijrah bersama seorang sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, melalui berbagai macam halangan dan rintangan dari kaum quraisy saat itu.

Hijrah adalah sebuah momentum luar biasa penting yang dilakukan dalam penegakan peradaban Islam. Ia memiliki banyak sekali makna bagi perjuangan Rasulullah saw beserta para sahabatnya. Hijrah berarti pendeklarasian sebuah entitas haq (dalam hal ini yaitu umat islam) yang berpisah tanpa sedikit pun beririsan dengan entitas kebatilan (kaum mekah quraisy jahiliy). Hijrah juga berarti sebuah nafas, cahaya, dan titik embun baru yang menyegarkan dan membangkitkan harapan besar serta optimism umat islam saat itu. Hijrah berarti dimulainya perjuangan dan kepemimpinan islam atas umat manusia. Momentum Hijrah berarti berpindah dari buruk menjadi baik, dari lemah menjadi kuat, dari cerai menjadi satu, dari tertindas menjadi memimpin.

Terdapat peristiwa dan hikmah-hikmah dibelakang kesuksesan Hijrah Rasulullah saw. Dimulai dari penyiapan Mush’ab ibn Umair yang dikirim ke Yastrib untuk mempersiapkan para pendukung dakwah Rasulullah saw. Lalu baiat aqobah pertama dan kedua untuk memastikan kesiapan entitas Yastrib untuk dijadikan markas dakwah. Selain itu, peristiwa kesedihan yang menimpa Rasulullah saw karena wafatnya para pendukung terbaiknya dalam dakwah islam dan ketidakadilan yang dialami umat islam di Mekah menjadi sebuah motivasi insaniyah yang mendorong keinginan untuk merasakan kondisi kehidupan dan dakwah yang lebih baik. Dan pada akhirnya tentu faktor perintah Allah swt kepada Rasulullah saw untuk berhijrah dan atas berkah pertolongan Allah swt scenario Hijrah tersebut berjalan dengan sempurna.

Kaitannya dalam konteks kontemporer

Kondisi umat islam saat ini, kalau kita coba bandingkan, ternyata tidak jauh dari kondisi umat islam yang ada sebelum Rasulullah saw Hijrah. Dalam kondisi sebelum Hijrah, umat Islam secara umum berada dalam kondisi yang terjajah oleh kaum quraisy jahiliy, baik secara pemikiran, ekonomi, sosial politik, dan budaya. Walaupun jumlah mereka sedikit demi sedikit terus bertambah dan kebenaran Islam itu semakin tersingkap, namun karena ketakutan apabila kekuasaan mereka tergantikan, quraisy jahiliy terus menekan dan ingin memberangus umat islam saat itu. Mereka melakukan manipulasi, menyebar terror, memboikot, mengucilkan umat islam dengan kekuasaan mereka, dan mengintimidasi orang yang mengaku Islam.

Kita menemukan kondisi yang sama untuk saat ini, umat Islam terus ditekan dan disuguhi pemikiran bahwa Islam adalah teroris yang buruk. Berislam dengan baik berarti fundamentalis, ekstrimis, dan sangat tidak toleran. Islam yang mereka inginkan adalah Islam yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, Islam yang hanya ada di sudut-sudut kumuh kehidupan masyarakat. Islam tidak diperbolehkan mengatur ekonomi bagi dirinya sendiri. Islam dilarang mendominasi budaya sehari-hari dan dianggap merupakan budaya terbelakang. Dalam sosial politik, Islam merupakan barang haram yang tidak boleh mencampuri dan harus jauh-jauh dari mengatur urusan tersebut.

Maka, momentum peringatan Hijrah dan perubahan yang dilakukan Rasulullah saw 1429 tahun lalu haruslah menjadi cambuk bagi kita untuk melakukan Hijrah dan perubahan yang sama dengan konteks kontemporer, ke’kini’an dan ke’disini’an. Membuat kondisi tersebut berubah secara revolusioner progresif.

Mahasiswa sebagai ‘sahabat’ perjuangan Risalah Kenabian di masa ini

Bagaimana? Satu keniscayaan yang tidak bisa terlepas dari keberhasilan Hijrah dan keseluruhan perjuangan dakwah Rasulullah Muhammad saw adalah adanya para pendukung perjuangannya, adanya sahabat Rasulullah saw yang menjadi penyokong setiap langkahnya. Sahabat Rasulullah saw adalah orang-orang dengan karakteristik muda, pemikiran kritis intelektual, tubuh kuat, dan keinginan yang membaja, serta prestasi-prestasi gemilang yang pernah dibuatnya, maka di masa ini, kelompok manusia yang paling mendekati karakteristik tersebut ada pada Mahasiswa.

Mahasiswa haruslah mengambil perannya sebagai ‘sahabat’ Rasulullah saw masa kini yang menjadi pendukung terdepan perjuangan Risalah Kenabian. Dalam konteks kontemporer, sahabat inilah yang akan senantiasa memperjuangkan risalah Islam yang dulu juga pernah didukung oleh Mahasiswa Madani di zaman Rasulullah saw.

Gerakan Dakwah Kemahasiswaan menjawab tantangan

Jika individu adalah dasar setiap masyarakat, maka Mahasiswa adalah salah satu individu pilihan yang paling banyak kontribusinya di masyarakat, paling dinamis dan berpengetahuan. Masyarakat dapat bangkit bersama gerakan Mahasiswa, sebagaimana masyarakat akan diam jika Mahasiswa melalaikan kewajiban dan peranannya.

Oleh karena itu, masyarakat sangat memperhatikan Mahasiswa, mereka mengamanahkan kepadanya lingkungan tempat ia belajar, mengamanahkan kepada guru atau dosen untuk mendidiknya secara individu di atas landasan aqidah dan memperhatikan aspek jasmani, akal, ruh, perasaan dan emosi maupun secara kolektif dengan memperhatikan masyarakat, bangsa, umat, dan agama dengan integritas dan nilai-nilainya. Mereka juga memberikan segenap apa yang dimiliki kepada para mahasiswa yang tidak lain adalah anak-anak mereka sendiri.

Maka menjadi kewajiban bagi Mahasiswa untuk menjawab tantangan peradaban tersebut dengan memberikan segenap pemikiran, ilmu, dan amal hingga ia maju bersama masyarakat, dan masyarakat berbangga dengan keberadaannya. Hingga pilar-pilar itu menegakkan kembali peradaban Islam yang penuh berkah. Engkaukah Mahasiswa itu?

5 responses to “Gerakan Dakwah Mahasiswa sebagai Salah Satu Pilar Bangkitnya Peradaban Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s